X
Conversation Detail Module
Collapse
  • Filter
  • Time
  • Show
Clear All
new posts

  • Klenteng tempat ibadah agama Budha atau Khonghucu?

    Dirjen Bimas Budha dekat ini mengeluar ketetapan bahwa klenteng adalah salah satu tempat ibadah agama Budha, padahal pada jaman orba tidak diakui dan klenteng harus diganti menjadi vihara atau cetya. Jadi menurut teman-teman apakah klenteng tempat ibadah agama Budha atau Khonghucu?

    Copas: http://forumbebas.com

  • #2
    Ta Chia Siek Tao Hao,

    Hallo Demix, anda salah paham, setahu saya Dirjen Bimas Buddha mengatakan bahwa Kelenteng adalah: TEMPAT IBADAH AGAMA TAO yg bernaung dibawah wewenang beliau! :khi8j:

    Jadi yang benar adalah sebagai berikut: :khi7m:
    * KELENTENG adalah: Tempat Ibadah UMAT AGAMA TAO.
    * LI DHANG adalah: Tempat Ibadah UMAT AGAMA KHONG HU CU.
    * VIHARA / CETYA adalah: Tempat Ibadah UMAT AGAMA BUDDHA.

    Nah, karena KHONG HU CU sebenarnya juga merupakan salah satu DEWA yang disembah oleh UMAT AGAMA TAO dengan gelar ZHE SHEN XIAN SHI, maka sebetulnya Kelenteng juga boleh digunakan oleh UMAT AGAMA KHONG HU CU di negara kita. :sure:

    Salam hangat TAO. XIE SHEN EN.

    Comment


    • #3
      Nibrung boleh ya? para saudara-saudara. menurut saya kelenteng itu adalah tempat ibadah umat tao khonghucu dan budha tridarma/mahayana tiongkok, slam kenal, changqi.:)

      Comment


      • #4
        Originally posted by Changqi View Post
        Nibrung boleh ya? para saudara-saudara. menurut saya kelenteng itu adalah tempat ibadah umat tao khonghucu dan budha tridarma/mahayana tiongkok, slam kenal, changqi.:)
        Tolong dijelaskan kenapa Changqi mengatakan demikian. Thanks.

        Comment


        • #5
          Saya rasa udah jelas yah krn rata2 semua kelenteng memang terdapat rupang agama Tao, KHC, dan Budha.
          Inilah sinkronisasi yang terdapat di indonesia...
          Tapi disinilah menunjukan bahwa agama Tao dapat menghormati agama lain <tridharma>...

          Comment


          • #6
            (utk menghemat tempat, saya menjawab pertanyaan dlm format langsung, tidak mengikuti model mayoritas yang mendahului mengkopi bagian yang akan ditanggapi/dijawabi pertanyaannya, agar tak terlalu (-mungkin-) membingkan, maka sebelum jawab/tanggapi saya singgung sedikit siapa yang ditanggapi dan tgl berapa)
            Tanggapan atas posting Ionghu. 14 Mei 2008, jam 11:45:
            Pertama-tama tentu saja pendapat saya ini adalah berdasar pengalaman/pengetahuan pribadi kami yang relatif masih cetek atau belum tentu valid semuanya, untuk itu sebelumnya juga saya ucapkan/mohon CMIIW.
            -->Ada banyak cara/latar belakang/scope dalam menjawab pertnyn sdra. Ionghu, saya melihatnya dari alasan praktis dan sekaligus kenyataan sejarah keberadaan kelenteng2 di Indonesia sepanjang masa, yang dapat dilihat dari berbagai kisah-kisah/tulisan dari berbagai media tentang kelenteng di berbagai daerah Indonesia dari dulu hingga kini, jadi tidak hanya melihat keadaan yang sekarang ini saja, di suatu tempat saja; keadaan yang dulu dan di berbagai tempat juga dijadikan pertibangan, apalagi jika kita menyadari suatu kondisi bahwa keadaan apa yang mungkin kita lihat di suatu tempat ibadah/kelenteng tertentu belum tentu sama atau berlaku di kelenteng lain.
            Sebelum adanya pemisahan-pemisahan antara 3 elemen sanjiao dari dalam kelenteng2, mayoritas 'isi' kelenteng terdiri dari obyek penghormatan dari 3 elemen tadi. Terlihat juga dari pengunjung/umat yang datang bersembahyang mayoritas adalah terdiri dari ketiga elemen tadi.
            Jika pada masa belakangan, dengan timbulnya : matakin, walubi dengan berbagai elemennya juga puti/mti, dan pembedaan ketiga elemen ini menjadi lebih diperjelas/dipertegas, sehingga dengan demikian bisa menimbulkan keadaan dimana suatu golongan bisa merasa dan mengklaim bahwa kelenteng tertentu adalah milik satu golongan tertentu, hal mana didasarkan atas kecenderungan/keyakinan dari mayoritas pengunjungnya, atau mungkin keyakinan (pilihan agama) mayoritas pengurusnya. Tapi dengan demikian tentu kita tak dapat serta merta setuju 100 % klaim bahwa tempat kebaktian tertentu itu adalah tempat kebaktian dari satu elemen tetentu saja, tidak salah bukan?
            Misal jika ada tempat ibadah baru yang didirikan dan diakrabi oleh satu golongan saja dari salah satu elemen di atas, maka mungkin tempat ibadah tersebut lebih tepat disebut sesuai nama golongan pendiri/pengakrabnya, yakni apakah itu Vihara, Litang, Daoguan atau apalah, tergantung sikon masing2. Dan dengan demikian kalau meninjau sejarah penyebutan tempat ibadah selama ini maka tempat ibadah tersebut tadi tidaklah tepat disebut Kelenteng bukan?. Kelenteng sudah menjadi sebutan yang luas lingkupnya.
            Saudara Ionghu, ada juga kemungkinan cara lain yang dapat dipakai dalam menjawab pertanyaan kita ini (tempat ibadah siapakah kelenteng tertentu itu ?) yakni dengan nama tempat ibadah tersebut apakah bercirikan Daois, Ruis atau Buddhist : melacak nama tionghoa tempat ibadah itu, apakah itu Si, Gong, An, Miao, Tang dll. (寺,宮,庵,廟,堂). tetapi inipun memiliki keterbatasan, karena kita tahu dari kenyataan lapangan (sekali lagi tidak melihat kondisi per suatu tempat ibadah di suatu jaman saja) bahwa misal di dalam Gong yang cenderung Dao dapat saja kita jumpai berbagai/sedikit objek pemujaan Buddhis maupun Ruis, demikian pula sebaliknya. Dan oleh karena kenyataan inilah maka akhirnya memang sejarah telah berbicara kepada kita bahwa hampir semua tempat ibadah dari berbagai nama/latar tersebut, khusus di Indonesia itu akhirnya dinamakan Kelenteng.
            Alasan terakhir yang mendasari penilaian saya di atas adalah adanya harapan pribadi saya yang terdalam yakni : kita, umat dari ketiga elemen ini, walaupun menyadari memiliki perbedaan yang nyata dalam keyakina-2 pribadi-2 kita, tetapi bisa dengan kebebasan nurani masing2 untuk dan agar supaya dalam kesempatan2 tetentu tetap bisa rukun dalam satu atap. Shanzai!!!, Sebelumnya saya ucapakan terima kasih atas tanggapan baliknya.

            Comment


            • #7
              Ta Chia Siek Tao Hao,

              Hallo Changqi, ha... ha... ha... ha... ha ........ Apa iya itu merupakan niatan tulus dari anda??? :khi27:

              Kalau memang setulus dari tulisan anda diatas, maka sebetulnya ya tidak masalah kalau nama tempat ibadah yg tadinya KELENTENG tetap menggunakan nama KELENTENG!!!!!!!!! ............. Lantas kenapa koq banyak tempat ibadah yg tadinya bernama KELENTENG dipaksa berubah nama menjadi Vihara atau Cetya ????? ......... Apakah tindakan ini tidak memicu sebuah pertengkaran diantara elemen2 dalam organisasi TRIDHARMA ????? ........... Apalagi Walubi, pada tahun 1993 pernah tidak mengakui HARI RAYA IMLEK, dan melarang KELENTENG2 untuk merayakan HARI RAYA IMLEK?!? ........... Itu semua apa artinya??? :lacay53:

              Nah sekarang malah berbalik lidah! .......... Jadi begini, bagi UMAT AGAMA TAO, memang dari dulu ada aliran yg mendorong adanya SAN JIAO dalam satu tempat ibadah, tapi itu dari pihak AGAMA TAO lho! Karena itu sampai sekarang pun banyak KELENTENG yg notabene merupakan tempat Ibadah UMAT AGAMA TAO, tetap toleransi untuk bisa digunakan oleh UMAT AGAMA yg ada dalam TRIDHARMA sebagai tempat ibadah bersama. :sure: :go:

              Salam hangat TAO. XIE SHEN EN.

              Comment


              • #8
                Setuju banget tuh yang dikatakan ss sm...

                Comment


                • #9
                  Yang Saya tanggapi adalah petanyaan sdr Longhu, tapi tanggapan saya malah ditanggapi oleh sdr. shanmao duluan, ok deh gak papa, Longhu masih belum masuk mungkin.

                  Saya menanggapi posting tanggapan/pertanyaan sdr shanmao, 15 meIi 2008, jam 18:55;

                  Sdr. Shanmao, salam buat anda Tentu saja niatan saya mengenai harapan kerukunan/persatuan 3 elemen sanjiao itu adalah yang tulus. Yang tahu cuman saya, Tian, para shenming dan mungkin beberapa Dy (Daoyou =Tooyu =Taoyu) yang memiliki mata bathin. Tak erlu pake sumpah sumpah segala khan ya, hihii.
                  Kalau yang tadinya bernama kelenteng lalu “dipaksa” menjadi vihara dan cetya, biarlah itu menjadi sejarah yang pahit saja, tapi biarlah kepahitan itu kini akan bisa memudar. Bukankah pelan-pelan status tersbut bisa diharapkan akan dipulihkan lagi? Baik via perjuangan organisasi Dao dan Ru maupun oleh perorangan dan kelompok independen yang menyadari hal ini. Tapi biarlah ini terjadi dengan gradual dan tidak dipaksakan. Kalau memang suatu kelenteng misalnya memang kenyataannnya sudah ditinggalkan 2 elemen yang lain lalu yang eksis mengurus dan beribadah disana hanya tersisa yang murni Shi/Fo maka mungkin biarlah namanya tetap vihara/cetya saja. Kecuali ketiga atau paling tidak 2 elemen masih aktif maka nama rumah ibadah tsb bolehlah diharapkan bahkan diperjuangka untuk kembali ke kelenteng.
                  Tapi sdr shanmao, apakah sdr. tak merasakan bahwa sungguh ini khas kita di Indo? Mungkin sdr kita yg lain di malaysia misalnya tak menghadapi masalah sama persis spt kita ini, mengingat tidak trjadinya politisasi status agama di tentukan pemerintah yang bermuara dengan terjadinya kasus perubahan nama tmpt ibadah spt di indo. Dengan demikian saya pikir saya tak perlu telalu memaksakan perubahan nama itu, berjuang atau berpendapat ok ok aja demi untuk info yang sebenarnya, asal tidak malah membuat pertikaian baru dengan elemen lain.
                  Lalu, jikalau ada organisasi suatu elemen yang pernah melarang perayaan tb imlek di kelenteng, itupun biarlah menjadi sejarah pahit yang kiranya boleh menjadi cerminan bagi kita semua dari 3 elemen, dari sana kita bisa mendaptkan pelajaran. Bagi yang melarang saya rasa sekarang sebagian mungkin sudah menyesal, kalaopun kaum yang belum menyesal (tak pernah menyesal) itu ada, biarlah itu menjadi persoalan bathin pribadinya msg-2, mugkin sekali suatu saat dia akan berubah pemikirannya/wawasannya.
                  Saya berterima kasih pada orang-orang Dao yang memiliki wawasan seperti yang sdr. Shanmao katakan yakni : mendorong sanjiao dlm suatu tempat ibadah. Inilah semangat yang perlu dilestarikan sekuat dan semampu kita semua. Membeirkan ruang bagi yang lain/yang berbeda
                  Dulu alasan penganut (umat) Ru/khc di indo mendirikan litang bukan untuk menandingi kelenteng tapi untuk lebih mengkususkan diri mempelajari ajaran Nabi Kongzi. Terlebih lagi karena status Ru tidak diakui pemerintah (juga Dao kan?), sehingga keberadaan umat ini pada beberapa tempat ibadah dsebutlah terlantar/tidak mendapatkan tempat. Saya kira alasan yang sama juga berlaku pada teman-2 komunitas/umat Dao yang mendirikan tempat ibadah/pertemuan khusus menpelajari Dao (mungkin misalnya Daoguan lainnya).

                  Sebetulnya saya meyakini (atau Mungkin sdr. lebih merasa netral kalau aya katakan saya memiliki pendaapat) bahwa di dalam hati kita semua umat penganut dari 3 elemen ini, ada satu nilai yang menyatukan kita : yakni Nurani kita yang terdalam, nurani kita ini adalah kebajikan bawaan yang mana dia menginginnan persatuan, tidak mau saling tikai, kita sama di situ. Tapi oleh karena perjalanan hidup kita masing mising dengan berbagai kebiasaan/padangan/pengalaman/penegtahuan berbeda, maka jadilah kita semakin mejauh.
                  Demikian pendapat saya, salam dalam kebajikan Tks. Changqi.

                  Comment


                  • #10
                    saya setuju pendapat changqi maupun shanmao, keduanya ada benarnya sih. Keduanya punya maksud tertentu, tapi ada benarnya semua.:)

                    Comment


                    • #11
                      Ta Chia Siek Tao Hao,

                      Hallo Changqi, asal anda sudah memahami duduk persoalannya dan tahu pihak mana yg MBO CENG LI, maka tidak perlu ribut lagi memang! Yang penting yg salah harus memperbaiki kesalahannya, Yang benar tetap mempertahankan kebenarannya dan berjuang untuk lebih benar lagi dikemudian hari! Itulah SIFAT UMAT BERAGAMA YG SESUNGGUHNYA! :lacay35:

                      Salam hangat TAO. XIE SHEN EN.

                      Comment


                      • #12
                        mau nanya mbo ceng li itu apa yah?

                        Comment


                        • #13
                          Ta Chia Siek Tao Hao,

                          Hallo Sanman89, MBO CENG LI mempunyai banyak makna, intinya adalah orang yg tidak tahu aturan! Disini jelas untuk menunjukkan bahwa orang yg menjadi tidak tahu aturan gara2 fanatik buta terhadap agamanya. :khi5a:

                          Salam hangat TAO. XIE SHEN EN.

                          Comment


                          • #14
                            gitu yah...
                            Ok!

                            Comment


                            • #15
                              Pernyataan tambahan : Semoga saya dan teman-teman sekalian dapat bersama mengetengahkan-memberatkan persamaan yang ada, (bukan berarti melupakan perbedaan loh) tapi dibawah satu atap : Umat Dao, Umat Ru (KHC) dan Umat Shi/Fo sekte Mahayana aliran Tiongkok dapat bahu membahu hormat menghormati, saling hargai. Mengendalikan diri berpulang kepada Kesusilaan/Upacara/Adat Istiadat Luhur itulah Cinta Kasih, shanzai! 克己復禮為仁,善哉. salam dalam kebajikan changqi. 01 Juni 2008.

                              Comment

                              Working...
                              X

                              Fatal error: Uncaught Database error in vBulletin 5.0.4: Invalid SQL: /** saveDbCache */ SELECT * FROM vbstc_cacheevent WHERE cacheid IN ('vb_readperms','getSearchResults_4aa9482f556a2c0758d29bbcda733382','pageNav_2','vbnodetext3588_6_0:e38af25796de1237119d539f36b5d806','vbnodetext_pre_3588_6_0:e38af25796de1237119d539f36b5d806','vbnodetext31710_6_0:e38af25796de1237119d539f36b5d806','vbnodetext_pre_31710_6_0:e38af25796de1237119d539f36b5d806','vbnodetext31751_6_0:e38af25796de1237119d539f36b5d806','vbnodetext_pre_31751_6_0:e38af25796de1237119d539f36b5d806','vbnodetext31821_6_0:e38af25796de1237119d539f36b5d806','vbnodetext_pre_31821_6_0:e38af25796de1237119d539f36b5d806','vbnodetext31853_6_0:e38af25796de1237119d539f36b5d806','vbnodetext_pre_31853_6_0:e38af25796de1237119d539f36b5d806','vbnodetext31878_6_0:e38af25796de1237119d539f36b5d806','vbnodetext_pre_31878_6_0:e38af25796de1237119d539f36b5d806','vbnodetext31930_6_0:e38af25796de1237119d539f36b5d806','vbnodetext_pre_31930_6_0:e38af25796de1237119d539f36b5d806','vbnodet in /home/siutaoc/public_html/community/core/vb/database.php on line 1191