This topic is closed
X
X
Conversation Detail Module
Collapse
  • Filter
  • Time
  • Show
Clear All
new posts

  • perbedaan klenteng dan vihara

    Ta Chia Siek Tao Hao,

    Semoga bermanfaat.

    Salam TAO.

    Originally posted by SIUTAO.COM
    perbedaan klenteng dan vihara


    ======================
    perbedaan klenteng dan vihara
    Chandra Kirana, 18 Februari 2003

    Omitofo,

    ikut menimbrung pembicaraan ini, menurut persepsi aku, bahwa kebanyakan agama buddha yang ada di Indonesia berasal dari abad yang lalu, dulu waktu zamannya kerajaan sriwijaya. Tapi bukan ini yang hendak aku bicarakan.

    Sepertinya memang agama Buddha itu erat kaitannya dengan klenteng. Kenapa ?
    karena sedari dulu, sejak zamannya katakanlah dari generasinya orang tua kita keatas (kakek dan nenek), mereka mengenai agama buddha itu dari klenteng. Dan jika ingin melihat kebelakang lagi lebih jauh, mereka berasumsi bahwa agama buddha identik dengan klenteng (maaf jika aku salah).

    Kemudian sesampainya di Indonesia, dimana bahwa negara indonesia hanya mengenal 5 agama yang ada yakni : agama islam, kristen, katholik, hindu dan buddha. Maka dari itu kemudian yang semula dikenal dengan nama klenteng melebur menjadi vihara. Jadi pada saat itu dapat dikatakan bahwa klenteng = vihara.

    Klenteng itu sendiri berasal dari ajaran konghucu, dimana mereka melakukan sembahyan (sembayang berasal dari kata sembah dan yang, yang = dewa) terhadap berbagai rupang2 yang ada, baik itu rupang dewa-i , bodhisatva maupun sang buddha.

    Kemudian oleh pemerintah itu sendiri, hal ini (sekarang ini)mulai kembali seperti semula, yang mana ajaran konghucu sudah dapat diterima oleh mereka, walaupun belum dinyatakan sebagai agama yang resmi dalam negara indonesia.

    terlepas dari itu semua, sebagai generasi yang sekarang, yang mana sudah mulai meyadari akan perbedaan antara vihara dan klenteng, maka sudah seharusnya sadar bahwa sesuatu yang sudah mendasar bagi mereka kaum golongan tua, tidaklah mungkin bagi mereka untuk langsung memutuskan bahwa klenteng adalah salah bukan vihara. Dan hal ini dapat diterapkan dalam generasi mendatang. Namun tidak menutup kemungkinan yang ada bahwa generasi muda sekarang ada juga yang melakukan sembahyang diklenteng. Dan itu sering ditemukan, misal saja saat menjelang imlek yang lalu.

    Dalam hal ini aku sangat menyadari sekali, bahwa sangatlah sukar buat mereka untuk memindahkan persepsi mereka, yang mana ajaran sang buddha dan bukan.

    Kiranya hal ini aku rasa kalian sudah pahami semua, sebagai seorang yang aktif dalam diskusi ini.

    Maaf kalau ada kata-kata aku yang salah

    omitofo
    chandra


    ======================
    Bunga rampai selayang pandang
    SHAN MAO, 18 Februari 2003

    Hallo semuanya,
    Kita semuanya pasti setuju bahwa agama Buddha disini berasal dari Tiongkok (Ada tuh dalam buku sejarah Indonesia untuk SMA)kayaknya memang pada zamannya kerajaan Sriwijaya .......... Sedangkan pada saat itu di Tiongkok sendiri tiga agama (TAO; KONG HU CU dan Buddha) juga sangat rukun bersatu dalam nama SAN CIAO (TRIDHARMA).
    Nah di Indonesia tempat ibadah yang paling umum didirikan etnis Tinghoa adalah kelenteng yang sebenarnya milik umat TAO, dan dipakai juga untuk tempat ibadah Tri Dharma sesuai dengan kondisi dari sononya ........... Selama ratusan tahun aman2 aja nggak ada masalah (Ya memang sebetulnya agama kan selalu menghindarkan umatnya jauh dari pertengkaran........
    Sampai tiba saatnya 30 tahun yang lalu, mulai agama dipolitiser dimana pemerintah hanya mengaku agama Buddha sebagai salah satu dari 5 agama yang resmi. Disinilah mulai ada sebagian orang lantas tergiur dengan kepentingan2 tertentu sehingga memisahkan diri dengan mendirikan Vihara atau bahkan nggak malu2 langsung merubah kelenteng jadi vihara dengan alasan politik dsb.
    Tapi ada juga yang tetap punya hati nurani, dengan mengubah nama sebagai TITD (Tempat Ibadah Tri Dharma), dengan demikian nama kelenteng tetap dipakai sampai sekarang ........
    Yah disinilah kita bisa melihat beraneka ragam watak manusia dalam usahanya mencari sesuatu yang sebenarnya nggak ada artinya..... (Alias tamak....).
    Ini semua menunjukkan betapa hebatnya arti YIN YANG itu, maka bagi kita umat TAO, mestinya kita melihat kelenteng sebagai salah satu peninggalan sejarah yang mesti dilestarikan, siapa tahu nantinya bisa dijual sebagai daya tarik pariwisata tersendiri............ seperti yang sekarang terjadi dikota MENADO (Kompas,16-02-03).
    Salam hangat TAO.


    ======================
    Buddha di Indonesia dari Cina?
    biawak, 18 Februari 2003

    Yang ini saya baru dengar (mungkin sudah terlalu lama keluar dari SMA?).
    Saya jadi ingin baca mengenai hal ini! Cari di Gramedia bagian sejarah SMU mungkin ya?

    Kalau dilihat arsitektur Borobudur sebagai contoh kebudayaan Buddha Jawa jaman dulu, mungkin lebih mirip ke arsitektur Campa atau Khmer daripada Tiongkok. Saya curiga kalau betul dibawa dari Tiongkok dan bukan dari India atau Asia Tenggara, candinya mirip klenteng!


    ======================
    Agama Buddha di Indonesia
    King Hian, 20 Februari 2003

    Halo semuanya,

    Kerajaan Sriwijaya adalah pusat ilmu dan kebudayaan agama Buddha di Asia Tenggara. Banyak bhiksu yang mempelajari agama Buddha dan bahasa Sansekerta di sini.
    Pada tahun 671 masehi seorang bhiksu dari dinasti Tang yang bernama Yijing 義淨 (di buku sejarah sekoloah ditulis Itsing) berangkat ke India untuk mempelajari agama Buddha. Di tahun 685 saat perjalanan pulang ia singgah di Sriwijaya. Di sini ia tinggal selama 10 tahun untuk mempelajari dan menerjemahkan buku-buku suci agama Buddha dari bahasa Sansekerta.
    Jadi, agama Buddha di Sriwijaya bukan berasal dari Tiongkok.

    Agama Buddha yang ada di Indonesia sekarang bukan kelanjutan dari jaman Sriwijaya. Ada andil para bhiksu dari Tiongkok dan Sri Lanka yang membangkitkan kembali agama Buddha di Indonesia. Sedangkan orang Indonesia yang pertama menjadi Bhiksu adalah The Boan An. Pada tahun 1953 Ia di tahbiskan menjadi Bhiksu di Myanmar oleh Ven. Mahasi Sayadaw dan diberi nama Ashin Jinarakkhita.

    Menurut saya, masalah penamaan vihara untuk semua kelenteng pada jaman orba adalah langkah yang tepat untuk tetap exist. Contohnya Hok Tek Bio yang berganti menjadi Mahacetiya Dhanagun di Bogor, dulu sempat akan dibongkar karena terkena perluasan pasar Baru Bogor. Salah satu orang yang menentang pembongkaran adalah orang Bali asli (pribumi) yang Buddhis, di lain pihak pengusaha yang ingin membongkarnya adalah WNI keturunan Tionghoa.
    Sekarang bisa dilihat, Hok Tek Bio terjepit oleh pasar Baru Bogor, dan jalan Kelenteng yang tadinya didepan Bio berubah menjadi kios. Padahal Hok Tek Bio Bogor adalah termasuk kelenteng yang tertua di Indonesia.

    Sedangkan kelenteng yang memang vihara/kelenteng Buddhis misalnya si [si] 寺 atau an [am] 庵 atau guanyinmiao [kuan im bio] 觀[B]SENSOR[/B]絳q, memang pantas disebut vihara.

    Salam Tao,

    King Hian


    ======================
    Asal mual...
    SHAN MAO, 23 Februari 2003

    Hallo King Hian,
    Saya setuju dengan anda asal agama Bhudda memang dari India, yang saya agak lupa tentang candi Borobudur itu, rasanya candi tsb pernah ditimbun oleh tanah pada zaman dahulu, betul nggak? dan di Indonesia cuma ada satu candi agama Bhudda, kenapa demikian ? Justru kelenteng2 yang memuja Bhudda dan Dewa/Dewi lainnya jauh lebih banyak di daerah ini, hal ini sangat menarik bukan?
    Salam hangat TAO.


    ======================
    candi Buddha dan kelenteng
    King Hian, 23 Februari 2003

    Halo SHAN MAO,

    Borobudur memang sempat menjadi bukit (bahkan oleh penduduk sekitarnya tidak diketahui sebagai candi):
    Tahun 1814 sewaktu Raffles sedang berkunjung ke Semarang (antara 1811-1815 Jawa di bawah jajaharn Inggris), ia diinformasikan adanya candi di desa Bumisegoro Magelang, lantas ia memerintahkan Cornelius untuk melakukan penyelidikan.
    Yang dijumpai oleh Cornelius adalah sebuah bukit yang ditumbuhi pohon dan semak yang lebat, diantara pohon-2 tampak batu berukir yang besar jumlahnya. Pembersihan dilakukan yang memakan waktu dua bulan. Sejak saat itulah Candi Borobudur dikenal kembali. (Pembersihan dilakukan berkali-kali, th 1835 baru berhasil dibersihkan sampai terlihat borobudur sebagai bangunan utuh atas jasa Hartman Residen Kedu Hindia Belanda).

    Di Indonesia bukan hanya ada satu candi Buddha, di Sumatera ada Candi Muara Takus, dll (kerajaan Sriwijaya), di Jawa (Mataram Syailendra) juga ada beberapa candi Buddha, yang terkenal antara lain: Borobudur, Mendut, dan Pawon.

    Keberadaan candi (Buddha dan Hindu) memang banyak yang tidak diketahui oleh penduduk sekitarnya karena ada diskontinu antara waktu candi tsb digunakan/dibangun (penduduk beragama Hindu-Syiwa atau Buddha) dengan waktu jaman Belanda waktu candi tsb ditemukan kembali (penduduk sudah beragama Islam).

    Seperti telah saya sampaikan, agama Buddha di Indonesia sekarang bukan kelanjutan dari jaman Sriwijaya / Mataram Syailendra (walaupun lebih dari 60% pemeluk agama Buddha di Indonesia saat ini adalah etnis Jawa, bukan Tionghoa).

    Sedangkan kelenteng bukanlah tempat ibadah Buddhis 100%, umumnya orang Tionghoa yang merantau bukanlah ahli agama (banyak petani, pedagang, pemberontak/buronan pemerintah, dan yang paling banyak: pengangguran). Mereka ini tidak begitu paham tentang ajaran/teori agama. Sehingga, umumnya di kelenteng dipuja bermacam-macam dewa (entah dari Tao, Khonghucu, Buddha, atau dewa lokal Indonesia).

    Setahu saya, dari kelenteng yang ada di Indonesia, sedikit yang 'memasang' Buddha sebagai 'dewa' utamanya. Yang paling banyak adalah Fudezhengshen [Hoktekcengsin] 福德正神, Guangong [Kuankong] 關公, dan Guanyin [Kuan'im] 觀[B]SENSOR[/B]. Alasannya jelas, karena tokoh-2 inilah yang paling populer di kalangan orang Tionghoa.

    Salam Tao,
    King Hian


    ======================
    Kembali
    SHAN MAO, 8 Juni 2003

    Hallo semuanya,
    Kembali kemasalah tempat ibadah, memang jelas dari diskusi2 dahulu bahwa: Vihara adalah tempat ibadah agama Budha; Li Dhang adalah tempat ibadah Kong Hu Cu; dan Kelenteng adalah tempat ibadah agama TAO.
    Hanya perlu diingat juga, karena tridharma juga sudah lama berakar dalam masyarakat, terutama masyarakat Tonghoa, sehingga banyak juga Kelenteng yang mempunyai arca Budha dan Kong Hu Cu, inilah bukti bahwa semangat Tridharma yang juga menunjukkan sifat keagamaan masyarakat Tionghoa sejak dahulu meskipun masing2 teguh dalam ajaran agamanya, namun tetap bisa rukun dan damai, karena masing2 mengutamakan TAO (Budi pekerti yang luhur) yang universil itu.
    Salam Ta Chia Siek Tao Hao.
Working...
X

Fatal error: Uncaught Database error in vBulletin 5.0.4: Invalid SQL: /** saveDbCache */ SELECT * FROM vbstc_cacheevent WHERE cacheid IN ('channelperms_1','vb_readperms','getSearchResults_cbcec71bbfadc53335daf9d0674e7f18','vbnodetext1268_6_0:e38af25796de1237119d539f36b5d806','vbnodetext_pre_1268_6_0:e38af25796de1237119d539f36b5d806','preloadTemplates_98','vB_ChannelPerms_Guest'); MySQL Error : Table './siutaoc_dbv3jstc98com5vbcfbase/vbstc_cacheevent' is marked as crashed and should be repaired Error Number : 145 Request Date : Sunday, April 20th 2014 @ 07:04:43 AM Error Date : Sunday, April 20th 2014 @ 07:04:44 AM Script : http:///forum/bahasa-indonesia/diskusi-tao/tempat-ibadah/1268- Referrer : IP Address : 50.19.74.67 Username : Guest Classname : vB_Database_MySQL MySQL Version : thrown in /home/siutaoc/public_html/community/core/vb/database.php on line 1191